Aku mencoba mendekatinya, ku tangkap tangannya dan ku tarik agar Dini tidak menutupi susunya. Hingga sampai di kios tambal ban, aku mendengar kabar yang tidak menyenangkan dari Mamat. Bokep Kami baru saja sampai di depan rumahnya, karena sudah tengah malam, tidak terlihat satu orang di gang, sehingga memudahkan kami masuk ke dalam rumah Rianti. “Sekarang, aku mau kamu menari…” perintahku. Mamat yang melihat kami begini cuma bisa diam dan tidak berani ikut campur lebih dalam. Tangisnya makin keras, aku pun segera mengalunginya belati dan menyuruhnya untuk tidak ribut. Kami pun segera mengemas barang curian kami dan segera meninggalkan rumah ini.










